Sahabat Palanta

Terima Kasih Indra Sjafri

Terima kasih Indra Sjafri, kalimat tersebut menjadi trending topic di berbagai media akhir-akhir ini. Kita tidak akan pernah lupa apa yang telah di lakukan oleh Coach Indra terhadap sepak bola Indonesia. Tidak hanya berupa prestasi, tetapi pemain-pemain berbakat lahir dari hasil blusukannya.

Saya sedikit kecewa ketika melihat PSSI yang hanya menjadikan gelar juara sebagai tolak ukur keberhasilan seoarang Indra Sjafri. Nama-nama seperti Evan Dimas, Yabes Roni, Ilham UA, Hansamu, Hargianto, Septian DM, Putu Gede, mungkin hanya sebagian dari generasi emas Garuda Jaya yang berhasil mengangkat pamor Coach Indra. Nama terbaru juga tidak kalah menterengnya, sebut saja Egy MV, M Rafli, Hanis, mereka kembali mengharumkan nama Coach Indra.

Tetapi kita patut bersyukur, pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan Sumatra Barat 2 Februari 1963 masih mendapatkan tempat di lingkungan PSSI. Kontrak Indra Sjafri yang berakhir Desember 2017 tidak akan di perpanjang oleh PSSI. Tugas baru Coach Indra adalah mencari bibit pemain muda yang akan di persiapkan untuk olimpiade 2024. Sekilas memang tidak jauh berbeda, masih mencari pemain dari seluruh Indonesia, hanya beda porsi.

Selamat bertugas Coach Indra, kami tunggu generasi baru Tim Nasional Indonesia Selanjutnya.

Belajar Akrab Dengan Aplikasi Online

Perkembangan teknologi membuat pola pikir sebagian orang juga ikut berubah. Dulu, jika seseorang ingin membeli sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari pakaian untuk keluar rumah. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan untuk menuju pasar. Sesampai di pasar, maka kita akan mencari toko, melakukan tawar menawar, deal harga, baru pulang. Setidaknya alur belanja offline tersebut masih bertahan sampai sekarang.

Saat ini, kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Setiap hari adalah proses belajar. Selalu ada hal-hal baru yang akan muncul. Smartphone bulan ini bisa jadi sudah agak canggih di bandingkan dengan smartphone yang keluar bulan lalu.

Masyarakat kota besar seperti Jakarta merupakan pelaku terbesar dalam perkembangan teknologi ini. Mulai dari munculnya aplikasi angkutan online (ojek dan taksi), aplikasi belanja online dan aplikasi update informasi jalanan.

Hal biasa seperti potong rambut pun tidak luput dari yang namanya aplikasi. Sahabat palanta mau beli buah? Sayuran? Semua sudah aplikasinya. Bahkan yang terbaru, sahabat palanta bisa beli obat lewat aplikasi. Konsultasi dengan dokter pun bisa melalui aplikasi.

Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan aplikasi-aplikasi tersebut dengan maksimal.

Rumah Untuk Anak Kita

Sekarang ini membeli rumah merupakan hal yang tidak sulit lagi. Hampir tiap satu sekali selalu ada pameran rumah di Jakarta. Beraneka ragam jenis rumah ada, mulai dari lokasinya yang masih di Jakarta, dari harga ratusan juga sama milyaran rupiah. Tinggak mencocokannya dengan kantong kita.

Tapi untuk saat ini saya belum rencana membeli rumah dalam dekat. Plan sekarang masih menyewa. Terkadang ada juga saran dari keluarga terdekat. Lebih baik uangnya di bayar buat cicilan rumah, dari pada sewa. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya berpikir dua kali untuk membeli rumah.

  • Riba. Ini merupakan faktor utama. Sebagai umat yang beragama Islam, saya mencoba patuh kepada aturan Allah. Riba ini tidak hanya menyebabkan kita rugi nanti di akhirat, tapi juga rugi dunia. Dimana setiap bulan hidup kita dihantui oleh tagihan, belum lagi bunganya yang sangat tidak bersahabat dengan kita.
  • Belum menemukan tempat yang cocok. Sebagai perantau di Jakarta, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai tempat tinggal yang akan saya tempatinya nantinya. Karena pilihan ini juga mempengaruhi terhadap anak saya nantinya. Sampai saat ini saya masih berusaha untuk mencari rumah masih di kawasan Jakarata. Kalau pun tidak dapat, mungkin saya pulang ke kampung halaman. Jadi petani sepertinya lebih menyenangkan.

 

[Info Jakarta] Bersabar Ketika Hujan

Hujan tidak seharusnya disalahkan. Kalau kita pernah menyalahkan hujan, berarti secara tidak langsung kita menyalahkan Tuhan karena telah menurunkan hujan.

Sepertinya yang terjadi di beberapa hari belakangan ini. Hujan sangat rajin mengguyur Ibukota. Salah satu faktor yaitu kita sudah memasuki bulan yang berakhiran “ber”. Suatu hal yang pasti terjadi ketika sudah turun adalah datangnya kemacetan.

Halte bus, di bawah jembatan layang dan tempat-tempat berteduh lainnya akan penuh sesak dengan pengendara sepeda motor. Saya hampir tidak pernah meniru hal seperti itu. Karena saya selalu sedia jas hujan di motor.

Menurut pengataman saya, Jakarta akan macet parah ketika ada dua kondisi. Pertama kondisi ketika hujan berlangsung atau sesudah hujan berlangsung dan yang kedua kondisi ketika hari Jum’at.

Makanya, apabila saya sudah bertemu dengan kedua kondisi tersebut, saya akan pulang setelah Shalat Maghrib. Ini mengingat waktu tempuh yang lama dan akan mengakibatkan terlewatnya waktu Shalat Maghrib. Kemacetan tetap ada, tapi setidaknya sudah berkurang dan saya bisa lebih santai di perjalanan.

Obrolan Santai Di Kantin

Obrolan santai di kantin kantor selalu membahas sesuatu yang menarik. Mulai membahas dari hal-hal yang kecil, sampai membahas hal yang berat sekalipun. Suatu ketika saya pernah membahas tentang panasnya persaingan pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Terkadang juga sempat bahas tingkah laku anak di rumah.

Mungkin kita tidak pernah lupa, bahwa manusia itu makhluk sosial. Manusia akan suka berinteraksi, akan suka berdiskusi untuk membahas hal-hal yang lagi trend saat itu. Bisa juga obrolan tersebut membahas masalah pekerjaan yang tidak terselesaikan di meja kantor.

Salah satu hal yang unik saya temukan yaitu ketika meeting untuk membahas suatu masalah, terkadang di meja meeting kita tidak menemukan solusinya. Nah, ketika di meja makan atau di kantin, pasti ada ide atau solusi untuk pemecahan masalah tersebut.

Bagaimana dengan sahabat palanta? Apa obrolan santai sahabat palanta?