Padang Pariaman

[BELAJAR BAHASA MINANG] BAGIAN 3

Setelah absen dalam satu kali posting, kali ini saya memberika kosa kata baru dalam rubrik Belajar Bahasa Minang. Dalam rubrik kali ini, kita akan bahas beberapa kalimat pertanyaan dalam Bahasa Minang. Ayo mari belajar :

  • Dari Ma Da / Ni? -> Ma disini artinya Mana. Jadi artinya “Dari Mana Uda / Uni?”.
  • Nio Pai Kama Da / Ni? ->  Nio disini artinya Mau. Pai disini artinya Pergi. Kama disini artinya Kemana. Jadi artinya “Mau Pergi Kemana Uda / Uni?”.
  • Tingga Dima Da / Ni -> Tingga disini artinya Tinggal. Dima disini artinya Dimana. Jadi artinya “Tinggal Dimana Uda / Uni?

Cukup untuk rubrik Belajar Bahasa Minang kali ini. Semoga bermanfaat..

Belajar Akrab Dengan Aplikasi Online

Perkembangan teknologi membuat pola pikir sebagian orang juga ikut berubah. Dulu, jika seseorang ingin membeli sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari pakaian untuk keluar rumah. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan untuk menuju pasar. Sesampai di pasar, maka kita akan mencari toko, melakukan tawar menawar, deal harga, baru pulang. Setidaknya alur belanja offline tersebut masih bertahan sampai sekarang.

Saat ini, kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Setiap hari adalah proses belajar. Selalu ada hal-hal baru yang akan muncul. Smartphone bulan ini bisa jadi sudah agak canggih di bandingkan dengan smartphone yang keluar bulan lalu.

Masyarakat kota besar seperti Jakarta merupakan pelaku terbesar dalam perkembangan teknologi ini. Mulai dari munculnya aplikasi angkutan online (ojek dan taksi), aplikasi belanja online dan aplikasi update informasi jalanan.

Hal biasa seperti potong rambut pun tidak luput dari yang namanya aplikasi. Sahabat palanta mau beli buah? Sayuran? Semua sudah aplikasinya. Bahkan yang terbaru, sahabat palanta bisa beli obat lewat aplikasi. Konsultasi dengan dokter pun bisa melalui aplikasi.

Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan aplikasi-aplikasi tersebut dengan maksimal.

Mengurangi Jatah Nasi

Saya sepakat bersama istri untuk mengurangi jatah makan nasi setiap pagi. Kebiasaan sarapan dengan nasi sudah dimulai sejak saya masih kecil. Penyebab utamanya adalah ketika berat badan saya dikritik oleh ibu saya sendiri. Naiknya memang drastis, setelah menikah berat badan saya naik lebih kurang 20 KG.

Maka dari itu, bersama istri saya merancang menu sarapan pagi yang sehat. Tujuan utamanya mengurangi jumlah karbohidrat di pagi hari. Alhasil, dalam satu minggu hanya ada 1 menu nasi, yaitu nasi goreng.

Telur memainkan peran disetiap sarapan pagi saya. Tidak terlalu sering memang, setidaknya dalam satu minggu, jatah makan telur sekitar 2 sampai 3 kali. Olahannya bervariatif, mulai dari telur rebus, omlete, dan ceplok. Biasanya di temani oleh sosis, atau kentang yang kadang di rebus kadang di goreng.

Pilihan untuk hidup sehat ada di tangan kita. Beraneka ragam menu makanan sehat banyak di google atau instagram. Tinggal bagaimana kita memilih menu yang benar-benar cocok dengan kita. Ayo mari hidup sehat.

Apa Kabar Tanah Sumatra?

Ibu Kota sudah di guyur hujan beberapa hari yang lalu. Namun apa kabar dengan tanah Sumatra? Apakah disana masuh tertutup kabut asap? Kabar terakhir yang saya dapat setelah terjadinya hujan di Jakarta, kabut asap sudah berkunjung ke kampung halaman saya, tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman – Sumatra Barat. Masker pun sudah mulai laku di sana. Penglihatan pun sudah tidak sejelas dulu lagi.

Banyak kabar yang beredar, bahwa kabut asap yang beberapa tahun sudah sangat langganan dengan tanah Sumatra ataupun tanah Kalimantan itu disebabkan oleh kebakaran hutan karena musim kemarau. Tidak adanya rintikan air hujan yang menyiram hutan Sumatra dan hutan Kalimantan, mengakibatkan pohon mati, terjadi kekeringan dan terjadilah kebakaran. Kalau memang ini penyebabnya, pemerintah seharusnya sudah punya antisipasi untuk mengatasi kebakaran hutan tersebut. Pemerintah harus menyusun semua rencana, apabila sudah mendekati bulan-bulan menjelang terjadinya musim kemarau. Kalau hal ini diterapkan, saya rasa pemerintah bisa mengurangi kerugian yang terjadi, dan tidak akan korban yang berjatuhan.

Namun ada kabar yang cukup menyedihkan saya dengar. Kabarnya kebakaran hutan di tanah Sumatra itu di sengaja oleh perusahaan yang mempunyai kepentingan di sana. Cara ini di lakukan agar klaim asuransi mereka cair. Ironis memang, kalau pun berita ini benar, mereka-mereka itu sangat rakus, tidak peduli nasib masyarakat di sekitar hutan tersebut.

Sekarang, apapun itu penyebab terjadinya kabut asap yang menimpa tanah Sumatra, pemerintah sudah seharus bertindak. Ini sudah merupakan bencana nasional, dampaknya bahkan sudah sampai ke negara tetangga. Sudah ada korban berjatuhan, banyak aktifitas yang terpaksa di hentikan, negara pasti mengalami kerugian yang besar, perusahaan-perusahaan yang beraktifitas di sana juga pasti mengalami kerugian. Ayolah Pak Presiden, berikan kami solusi bukan cuma sekedar janji, bukan sekedar kunjungan, bukan sekedar blusukan.