Ojek Online, Kelatahan dan Persaingan Bisnis Startup

Belakangan ini fenomena ojek online menjadi topik pembicaraan. Di samping kita tidak perlu tawar menawar harga, para penyedia jasa ojek online memberikan kemudahan dalam melakukan pesanan. Customer tinggal install aplikasi dari ojek online tersebut, tentukan tempat tujuan, maka akan keluar rupiah yang harus kita bayarkan. Tidak hanya di Jakarta, ojek online ini sudah mulai merambah ke berbagai kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makasar dan Bali.

Pemain lama di mulai Gojek. Ojek online yang di gawangi oleh Nadiem Makarim mulai mencoba peruntungan di ranah ojek online sekitar bulan Juni 2010. Nadiem tidak sendiri, bersama dua orang temannya, Brian Cu dan Michaelangelo Moran. Seperti kebanyakan, usaha yang di rintis oleh Nadiem ini tidak berjalan mulus. Alih-alih mengembangkan bisnis Gojek, Nadiem malah mengembangkan Zalora dan sempat mencoba peruntungan di Kartuku. Baru di tahun 2015, nama Gojek kembali akrab di telinga masyarakat ibu kota. Awalnya Gojek di pesan via telpon, sekarang Gojek sudah punya aplikasi yang memudahkan costumer untuk melakukan pesanan.

Grab Bike, bisa jadi ini merupakan saudara kembar Gojek. Sama-sama mengusung ojek online dengan melakukan pesanan via aplikasi yang sudah di install di smartphone. Tapi pemain ini tidak berasal dari Indonesia, Grab Bike merupakan pendatang dari negeri Jiran. Pendirinya Anthony Tan, merupakan teman seperjuangan Nadiem Makarim di Harvard Business School. Sebenarnya Grab Bike merupakan anak baru di ranah ojek online, mereka baru mencoba peruntungan di Indonesia pada bulan Mei 2015.

Tidak cukup hanya dengan dua pemain saja. Baru-baru ini muncul penyedia ojek online. Blu Jek, merupakan pesaing baru dari Gojek dan Grab Bike. Awal kemunculan Blu Jek, orang-orang mengiranya Blu Jek merupakan pelebaran saya bisnis dari Blue Bird Taxi. Ternyata tidak, hal itu langsung di bantah sendiri oleh Co-Founder Blu Jek, Garrett Kartono pada tanggal 17 September 2015 bertepatan peluncuran aplikasi Blu Jek.

Namun, belakangan ini kerahasian data pelanggan costumer ojek online tidak terjaga dengan baik. Ada beberapa kasus, seperti costumer salah satu ojek online sempat di hubungi kembali driver ojeknya, mungkin hanya sekedar sms atau cuma pengen kenalan. Mungkin ini yang melatarbelakangi lahirnya Lady Jek. Dari namanya saja sudah ketahuan, bawah semua driver ojek online ini sudah pasti perempuan dan penumpangnya juga sudah pasti perempuan. Ide untuk mendirikan Lady Jek ini di gagas oleh Brian Mulyadi. Alasannya untuk mendirikan Lady Jek adalah untuk mengurangi kecemasan para penumpang wanita terhadap moda transportasi umum yang selama ini kurang aman, khususnya untuk wanita.

Apapun itu, baik Gojek, Grab Bike, Blu Jek dan Lady Jek, semoga mereka semua bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Dalam dunia bisnis, persaingan itu pasti ada, tinggal bagaimana para penggagas ojek online tersebut berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada costumernya. Satu hal yang penting, para driver ojek online ini harus mematuhi aturan berlalu lintas.

Advertisements

One thought on “Ojek Online, Kelatahan dan Persaingan Bisnis Startup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s