Bandara, Babi, Pulang Kampung

Sebagai perantau saya sudah memutuskan untuk pulang satu kali dalam setahun. Dan momen itu adalah ketika lebaran. Bagi saya itu momen yang sangat sakral. Tidak boleh terlewati apalagi saya tidak jadi pulang karena alasan pekerjaan. Bagi saya, bekerja itu untuk menikmati hidup, bukan hidup untuk menikmati bekerja.

Itu prinsip saya, akan saya pegang sampai menikah nanti. Berat memang, tapi saya harus menghargai kampung halaman, tempat dimana saya belajar hidup, belajar apa itu pertemanan, belajar semuanya.

Termasuk ketika saya mendapat tugas di Pulau Bali. Semakin jauh, semakin keujung. Untuk pulang kampung ke Padang, saya harus menggunakan dua kali pesawat. Ongkos tambah mahal, sedangkan gaji hanya pas untuk hidup di Bali.

Saya hanya bisa melongo ketika melihat teman-teman saya, yang gajinya sudah lumayan ketika pulang satu bulan sekali. Betapa bahagianya hati mereka, pulang, bertemu anak istri mereka, bertemu orang tua meraka. Bisa melihat kampung halaman, menikmati makanan enak.

Sedangkan saya hanya diam di kosan, menahan air mata. Merantau itu pedih ketika ditinggal sendiri. Teman-teman pulang kampung. Obatnya Cuma handphone, menghubungi orang tua dan kerabat lainnnya merupakan cara ampuh untuk menghilangkan kerinduan itu.

Tugas saya setiap akhir pekan adalah mengantarkan teman yang mudik ke bandara. Minggu sorenya menjemput lagi bandara. Itu adalah rutinitas yang saya lakukan setiap akhir pekan ketika bertugas di Pulau Bali.

Suatu ketika saya punya pengalaman menarik. Terkadang menjijikan kalau saya ingat-ingat. Lain dari hari biasanya, saya menjemput teman senin pagi. Saya janjian sekitar jam 7 pagi sudah di bandara.

Setelah sampai di bandara, ternyata saya datang terlalu cepat. Saya hubungi teman, no handphonenya masih belum aktif. Asumsi pertama teman saya masih mengudara di atas awan.

Sambil menunggu kedatangan teman, saya mutar-mutar di sekitar bandara untuk mencari sarapan pagi. Ok, saya ketemu bapak-bapak jualan nasi jinggo.

Nasih jinggo itu semacam nasi uduk, lauknya bermacam-macam. Ada telur, ikan tongkol, ayam suir. Biasanya saya menikmati nasi jinggo disamping kantor, saya sudah punya langganan sendiri.

Perut lapar, teman masih belum datang, tanpa pikir panjang langsung saja saya ambil satu bungkus nasi jinggo. Ketika nasi jinggo sudah di tangan, si penjual berkata kepada saya..

“Mas, itu lauknya nasinya pakai daging babi”

Selera makan langsung hilang, saya juga bodoh. Tidak bertanya apa lauknya, biasanya kalau sarapan di samping kantor saya selalu menanyakan lauknya. Dan sayapun berpikir, kenapa si penjual sampai mengatakan kepada saya bahwa lauknya daging babi??

Karena sudah lapar, dan sudah tidak enak sama penjualnya, mau tidak mau saya pilih nasi jinggo dengan lauk yang lain. Yang tinggal Cuma ayam. Walaupun selerea makan sudah tidak ada, saya tetap mencoba untuk memakan nasih jinggo yang pakai ayam tadi. Ya akhinrya tidak habis. Saya bayar, minum, setelah itu langsung pergi ke tempat parkir motor. Benar-benar pengalaman yang unik bagi saya. Semoga tidak terulang lagi. 

Advertisements

3 comments

  1. Dulu deket Nusa Dua sering beli nasi bungkus, sama penjualnya dibilangin mau pakai daging babi atau ayam. Padahal di etalasenya gak ada kepala babi yang biasanya selalu nongol. Baiknya memang ditanyain dulu dagingnya apa.

    Kalau alah tamakan ndak baa bagai do jo, asa lain indak tau, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s