Bandung Dengan Kemacetannya

Akhir pekan merupakan waktu menyesakan bagi warga pribumi bandung, begitu juga dengan para mahasiswa. Kenapa tidak, seluruh jalanan di kota bandung di penuhi para pendatang dari kota sebelah. Saya termasuk korban kemacetan, bayangkan saja, jarak yang biasanya kita tempuh hanya dalam waktu 30 menit, bisa jadi 1 – 2 jam.

Kalau tidak ada kegiatan akhir pekan, saya lebih memilih diam di kos. Saya tidak sanggup bermacet ria di jalanan. Jalan menuju ciwalk, FO yang ada di jalan juanda, di jalan riau. Sepertinya penyakit jakarta sudah menular ke bandung. Tidak hanya setiap akhir pekan, macet juga terjadi setiap hari, ketika jam pulang kerja.

Kapan kita bisa menikmati perjalanan dengan lancar? Kapan kita pergi dan pulang kerja nyaman? Mungkin hanya kampung halaman yang bisa mengobati semuanya.

Advertisements

23 thoughts on “Bandung Dengan Kemacetannya

  1. waktu kopdar kemarin di ngopi doeloe, sebenarnya kita bingung ada siapa lagi narablog yang tinggal di bandung. kayaknya asop yang tahu banyak karena dia sering BW ke rumah teman2 narablog lainnya. saya pun baru pertama kali ikut sebab asopnya sering lupa ngajak saya pas gathering 😆

    okey bro , nanti kita ajak2 yah kalo ada gathering lagi ya

  2. saya tinggal di bandung sejak 1990an dan bandung mulai terasa medio 96-97 sejak FO mulai membanjiri bandung disusul dengan fenomena indie band, outlet distro, dll sejak 200-an. Semuanya berdampak bagus pada perekonomian lokal memang namun dampak buruknya juga terasa spt yang masbro tulis di artikel ini.

    Saya rasa para pengambil kebijakan di seluruh indonesia masih berpihak pada pemilik kendaraan bermotor (R4 dan R2), buktinya mereka lebih senang membangun highway dan flyover. padahal kalo direncakan dengan matang, kita di bandung dan jakarta sini bisa memiliki MRT seperti subway dan monorail lho. Vietnam dan Thai aja udah mulai, kok kita yang notebene terbesar di Asteng malah gak maju2 kesana….. miris dah…..

  3. Kita aja yang (mantan) mahasiswa, amat terganggu dengan keadaan ini. Lain halnya kalo saya hanya di kosan, leyeh-leyeh gak jelas… kalo ada acara darurat, semisal ke dokter, gimana coba, ya ‘kan? 😦

  4. @ Asop …… kalau di sini, andai ada yg darurat hrs pergi ke dokter kayak korban kecelakaan lalin yg hrs cepet2 dioperasi di sini ada helikopter khusus utk itu, tapi ya tentu saja berbeda dr sana ya, susah juga kalau di mana mana macet

    memang benar kampung halaman setidaknya tidak semacet kota kota besar
    aku kok jarang lihat macet ya di sini

  5. flash back to 1998,
    ketika itu saya ditawari kuliah dibandung oleh ayah saya, tapi just dont like/teu seneng macetna, sareng angkot na nu pabalieut, akhirnya diputuskan jogjakarta menjadi pilihan tempat kuliah.
    tapi bandung dengan segala kelebihannya memang “paris van java”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s