Generasi Milenial Tulehu

Dahulu saya tidak pernah tahu daerah yang bernama Tulehu. Nama daerah di maluku yang saya tahu hanya Saparua & Seram. Sekarang saya mulai sedikit tahu dan menjadi familiar dengan daerah yang bernama Tulehu.

Tulehu adalah sebuah desa di kecamatan Sala Hutu, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, dan menjadi pintu masuk bagi penduduk dari pulau-pulau Saparua, Seram, Haruku, Nusalaut dan pulau-pulau lainnya ke Kota Ambon karena disini terdapat Pelabuhan Tulehu (Port Of Tulehu). “Sumber Dari Wikipedia”

Terkadang pemain berbakat itu lahir dari daerah yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Dari Tulehu kita belajar banyak, tahu lebih banyak dan yang pasti kita patut berterima kasih kepada Tulehu. Mungkin merupakan salah satu anugrah Allah kepada Tulehu, selain pantainya yang indah, Tulehu juga melahirkan talenta berbakat di Republik ini.

Menarik untuk dibahas, siapa saja mereka yang berhasil mencuri perhatian publik Sepak Bola Nasional. Disini saya mencoba sedikit review pemain yang berasal dari Tulehu setelah eranya Imran Nahumarury atau lebih tepatnya saya sebut Genarasi Milenialnya Tulehu.

  • Rizky Pellu

Seorang gelandang yang mempunyai kemampuang bertahan dan menyerang dengan baik. Saya kira, beberapa tahun kedepan nama Rizky Pellu akan menghiasi lini tengah Indonesia. Rizky Pellu merupakan alumni dari SSB Tulehu Putra yang saat gelaran Liga 1 Indonesia memperkuat klub PSM Makasar. Menarik untuk kita simak, kemana sang gelandang akan berlabuh untuk musim baru Liga 1 Indonesia.

  • Ramdani Lestaluhu

Mungkin setelah Bambang Pamungkas & Ismed Sofyan pensiun, Ramdani bisa saja menjadi ikon Persija selanjutnya. Walaupun sempat memperkuat Sriwijaya FC semalam pada musim 2012 – 2013, Ramdani telah menghabiskan sebagian karir sepak bolanya di Persija. Karir Ramdani di Tim Nasional Indonesia sebenarnya cukup bersinar, mulai dari memperkuat Indonesia U-17, U-19, U-21, U-23 serta sudah mempunyai caps di Timnas Senior sebanyak 1 kali.

  • Abduh Lestaluhu

Namnya bersinar ketika memperkuat Tim Nasional Indonesia pada gelaran Piala AFF 2016 yang lalu. Pemain kelahiran 16 Oktober 1993 pada gelaran Liga 1 kemaren memperkuat klub PS TNI. Selain PS TNI, klub yang pernah di perkuat adalah Persis Solo dan Persija Jakarta. Abduh Lestaluhu yang juga merupakan Anggota TNI juga pernah memperkuat Tim Nasiona U-19 pada tahun 2011 silam.

  • Hendra Adi Bayauw

Hendra merupakan pemain andalan Nilmaizar ketika memperkuat Semen Padang. Hendra memperkuat Semen Padang dari umur 19 tahun dari tahun 2012 sampai tahun 2016.  Pemain yang mempunyai 5 penampilan bersama Timnas Senior dan sudah mengkoleksi 2 gol, saat masih terikat kontrak dengan klub asal Kalimantan, Mitra Kukar.

  • Ridwan Tawainella

Mungkin kita kurang begitu familiar dengan nama Ridwan Tawainella. Ridwan baru bersinar bersama PSM Makasar pada gelaran ISC A tahun 2016 kemaren.

Ulasan saya diatas hanya sebagian dari pemain asal Tulehu yang sudah menghiasai jagad sepak bola Indonesia. Menarik untuk ditunggu, siapa lagi generasi Tulehu selanjut yang meneruskan cerita indah dari salah desa di Pulau Maluku.

Terima Kasih Indra Sjafri

Terima kasih Indra Sjafri, kalimat tersebut menjadi trending topic di berbagai media akhir-akhir ini. Kita tidak akan pernah lupa apa yang telah di lakukan oleh Coach Indra terhadap sepak bola Indonesia. Tidak hanya berupa prestasi, tetapi pemain-pemain berbakat lahir dari hasil blusukannya.

Saya sedikit kecewa ketika melihat PSSI yang hanya menjadikan gelar juara sebagai tolak ukur keberhasilan seoarang Indra Sjafri. Nama-nama seperti Evan Dimas, Yabes Roni, Ilham UA, Hansamu, Hargianto, Septian DM, Putu Gede, mungkin hanya sebagian dari generasi emas Garuda Jaya yang berhasil mengangkat pamor Coach Indra. Nama terbaru juga tidak kalah menterengnya, sebut saja Egy MV, M Rafli, Hanis, mereka kembali mengharumkan nama Coach Indra.

Tetapi kita patut bersyukur, pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan Sumatra Barat 2 Februari 1963 masih mendapatkan tempat di lingkungan PSSI. Kontrak Indra Sjafri yang berakhir Desember 2017 tidak akan di perpanjang oleh PSSI. Tugas baru Coach Indra adalah mencari bibit pemain muda yang akan di persiapkan untuk olimpiade 2024. Sekilas memang tidak jauh berbeda, masih mencari pemain dari seluruh Indonesia, hanya beda porsi.

Selamat bertugas Coach Indra, kami tunggu generasi baru Tim Nasional Indonesia Selanjutnya.

[BELAJAR BAHASA MINANG] BAGIAN 3

Setelah absen dalam satu kali posting, kali ini saya memberika kosa kata baru dalam rubrik Belajar Bahasa Minang. Dalam rubrik kali ini, kita akan bahas beberapa kalimat pertanyaan dalam Bahasa Minang. Ayo mari belajar :

  • Dari Ma Da / Ni? -> Ma disini artinya Mana. Jadi artinya “Dari Mana Uda / Uni?”.
  • Nio Pai Kama Da / Ni? ->  Nio disini artinya Mau. Pai disini artinya Pergi. Kama disini artinya Kemana. Jadi artinya “Mau Pergi Kemana Uda / Uni?”.
  • Tingga Dima Da / Ni -> Tingga disini artinya Tinggal. Dima disini artinya Dimana. Jadi artinya “Tinggal Dimana Uda / Uni?

Cukup untuk rubrik Belajar Bahasa Minang kali ini. Semoga bermanfaat..

Taman Suropati, Salah Satu Sudut Kenyamanan Ibu Kota

Selamat berakhir pekan. Postingan ini ditulis ketika saya berada di Taman Suropati. Di bawah rindangnya pohon, di selimuti cuaca yang sangat sejuk, beralaskan rumput nan hijau. Ibu kota bersyukur masih punya taman. Tujuannya jelas, mengimbangi pembangunan pohon beton serta menyelaraskan pemandangan mata.

Gemirciknya suara air, syahdunya kicauan burung serta semangatnya ayunan kaki, menambah semangatnya berakhir pekan. Saya memang tidak berlebihan memuji Jakarta. Terlepas dari semua polemik yang terjadi belakngan ini, Jakarta punya hal untuk di banggakan.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menulis outdoor. Sangat menarik, saya berpikir sejenak, menoleh ke sekitar taman untuk mencari sambungan kata yang akan saya tulis.

Taman Suropati sangat cocok sebagai tempat edukasi bagi anak-anak, terutama yang berumur di bawah 5 tahun. Ada burung, tanaman yang mungkin tidak bisa ditemui di tempat lain.

Di depan Taman Suropati, ada hamparan tanaman yang berwarna-warni. Lokasinya persis berada disebrang Kantor Bapenas.

Nah, nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan. Sudah sepatunya kita bersyukur. Selamat berakhir pekan.

Belajar Akrab Dengan Aplikasi Online

Perkembangan teknologi membuat pola pikir sebagian orang juga ikut berubah. Dulu, jika seseorang ingin membeli sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari pakaian untuk keluar rumah. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan untuk menuju pasar. Sesampai di pasar, maka kita akan mencari toko, melakukan tawar menawar, deal harga, baru pulang. Setidaknya alur belanja offline tersebut masih bertahan sampai sekarang.

Saat ini, kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Setiap hari adalah proses belajar. Selalu ada hal-hal baru yang akan muncul. Smartphone bulan ini bisa jadi sudah agak canggih di bandingkan dengan smartphone yang keluar bulan lalu.

Masyarakat kota besar seperti Jakarta merupakan pelaku terbesar dalam perkembangan teknologi ini. Mulai dari munculnya aplikasi angkutan online (ojek dan taksi), aplikasi belanja online dan aplikasi update informasi jalanan.

Hal biasa seperti potong rambut pun tidak luput dari yang namanya aplikasi. Sahabat palanta mau beli buah? Sayuran? Semua sudah aplikasinya. Bahkan yang terbaru, sahabat palanta bisa beli obat lewat aplikasi. Konsultasi dengan dokter pun bisa melalui aplikasi.

Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan aplikasi-aplikasi tersebut dengan maksimal.

Mengurangi Jatah Nasi

Saya sepakat bersama istri untuk mengurangi jatah makan nasi setiap pagi. Kebiasaan sarapan dengan nasi sudah dimulai sejak saya masih kecil. Penyebab utamanya adalah ketika berat badan saya dikritik oleh ibu saya sendiri. Naiknya memang drastis, setelah menikah berat badan saya naik lebih kurang 20 KG.

Maka dari itu, bersama istri saya merancang menu sarapan pagi yang sehat. Tujuan utamanya mengurangi jumlah karbohidrat di pagi hari. Alhasil, dalam satu minggu hanya ada 1 menu nasi, yaitu nasi goreng.

Telur memainkan peran disetiap sarapan pagi saya. Tidak terlalu sering memang, setidaknya dalam satu minggu, jatah makan telur sekitar 2 sampai 3 kali. Olahannya bervariatif, mulai dari telur rebus, omlete, dan ceplok. Biasanya di temani oleh sosis, atau kentang yang kadang di rebus kadang di goreng.

Pilihan untuk hidup sehat ada di tangan kita. Beraneka ragam menu makanan sehat banyak di google atau instagram. Tinggal bagaimana kita memilih menu yang benar-benar cocok dengan kita. Ayo mari hidup sehat.

Niat Para Perokok

Saya termasuk orang yang sangat giat mengkampanyekan anti rokok. Kampanye tersebut saya mulai dari keluarga saya sendiri. Ayah dan adik saya merupakan perokok aktif. Ayah merupakan perokok berat. Tetapi gerakan untuk berhenti merokok mustahil bisa terlaksana jika dari pelakunya sendiri tidak ada niat untuk berhenti.

Kalaupun niat untuk berhenti merokok sudah ada, tetapi tidak segera dilakukan, ini juga sama bohong. Niat berhenti merokok itu harus dibarengi dengan implementasi. Percaya atau tidak, para perokok harusnya mengambil pelajaran dari para perokok yang sudah berhenti dari aktifitas ahli hisap tersebut.

Disini saya mencoba shared beberapa tips supaya sahabat palanta yang masih aktif merokok bisa berhenti. Saya tahu niatnya sudah ada, dan dengan adanya tips berikut ini bisa meneruskan niat untuk berhenti total jadi perokok aktif. Seperti biasanya, tips berikut ini saya dapat dari mereka-mereka yang berhasil berhenti merokok.

  • Lakukan rontgen 3D. Cara ini dilakukan oleh saudara dari teman saya. Setelah dilakukan rontgen 3D, hasilnya paru-parunya sudah hitam. Mulai dari saat itu, dia mulai benci dari yang namanya rokok. Sampai-sampai, jika ketika berbicara dengan temannya yang perokok, dia sampai membuang dan menghancurkan rokok temannya tersebut. Teman bertanya, kenapa buang rokok saya? Dia menjawab, saya sudah sangat benci dengan rokok ini, rokok ini yang membuat paru-paru saya hitam.
  • Aduk air dengan garam dalam satu wadah. Celupkan semua ujung rokok yang biasa di hisap ke dalam wadah yang berisi dengan air dengan garam. Masukan lagi kedalam kota. Nah, setiap akan merokok, kita akan merasakan rasa asin.

Intinya, semuanya dikembalikan kepada niat para pelaku perokok.Dan yang penting niat harus diiringi dengan langkah nyata.

Rumah Untuk Anak Kita

Sekarang ini membeli rumah merupakan hal yang tidak sulit lagi. Hampir tiap satu sekali selalu ada pameran rumah di Jakarta. Beraneka ragam jenis rumah ada, mulai dari lokasinya yang masih di Jakarta, dari harga ratusan juga sama milyaran rupiah. Tinggak mencocokannya dengan kantong kita.

Tapi untuk saat ini saya belum rencana membeli rumah dalam dekat. Plan sekarang masih menyewa. Terkadang ada juga saran dari keluarga terdekat. Lebih baik uangnya di bayar buat cicilan rumah, dari pada sewa. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya berpikir dua kali untuk membeli rumah.

  • Riba. Ini merupakan faktor utama. Sebagai umat yang beragama Islam, saya mencoba patuh kepada aturan Allah. Riba ini tidak hanya menyebabkan kita rugi nanti di akhirat, tapi juga rugi dunia. Dimana setiap bulan hidup kita dihantui oleh tagihan, belum lagi bunganya yang sangat tidak bersahabat dengan kita.
  • Belum menemukan tempat yang cocok. Sebagai perantau di Jakarta, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai tempat tinggal yang akan saya tempatinya nantinya. Karena pilihan ini juga mempengaruhi terhadap anak saya nantinya. Sampai saat ini saya masih berusaha untuk mencari rumah masih di kawasan Jakarata. Kalau pun tidak dapat, mungkin saya pulang ke kampung halaman. Jadi petani sepertinya lebih menyenangkan.

 

Cerita Akhir Pekan

Tulisan ini saya buat sekitar 30 menit sebelum berangkat ke kantor. Sebelumnya mohon maaf karena kemaren saya tidak bisa posting untuk rubrik belajar Bahasa Minang.

Weekend kali ini kebanyakan aktifitas saya berada di luar rumah. Sabtu pagi saya menemani istri dan anak pergi berenang di daerah Gudang Peluru. Untuk pertama kalinya Hafshah berenang di kolam renang umum. Siangnya kami singgah di tempat saudara di daerah Tebet. Silahturahmi sekalian beli Madu Pramuka.

Sebenarnya hari minggu tidak ada rencana pergi keluar. Rencananya mengisi rubrik Bahasa Minang dan siangnya menyantapi Gulai Santan buatan istri. Tapi tiba-tiba kepikiran pergi ke rumah saudara di Pondok Aren. Sekitar jam 09.00 kami berangkat dari rumah.

Perjalanan kali ini saya mencoba menggunakan Kereta Api (Commuter Line). Biasanya kami naik Uber untuk pergi kemanapun. Sekalian mengenalkan Commuter Line pada Hafshah. Motor saya parkir di Stasiun Palmerah dan kami turun di Stasiun Jurangmangu. Dari Stasiun Jurangmangu kami melanjutkan dengan angkot.

Rencananya, jika perjalanan lancar, kami akan pulang sekitar jam 11.00 dari Pondok Aren. Tetapi rencana hanya tinggal rencana. Kami sampai di rumah sekitar jam 15.00.

Semoga Minggu depan saya bisa mengisi kembali rubrik Belajar Bahasa Minang.

Petani dan Nelayan, Harapan Masyarakat Indonesia

Indonesia ini mempunyai beraneka ragam profesi pekerjaan. Setiap profesi pekerjaan tersebut pasti mempunyai dampak positif bagi manusia yang ada disekitarnya. Dari sekian banyak profesi pekerjaan tersebut, ada beberapa profesi pekerjaan yang keberlangsungannya bergantung kepada pemerintah. Artinya disini peran pemerintah sengat menentukan, apakah profesi pekerjaan tersebut membuat untung si pelakunya atau malah membawa kerugian.

Disini saya akan mencoba menjelaskan dua profesi pekerjaan, dimana kita sangat bergantung ke dua profesi pekerjaan tersebut.

  • Petani. Saya dibesarkan di keluarga petani. Nenek saya seorang petani, begitu juga dengan kakek saya. Petani disini mencakup semuanya, petani padi, petani sayuran, petani buah-buahan. Sebenarnya hasil pertanian Indonesia mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia. Tapi banyak hasil pertanian yang masuk dari luar negeri, membuat hasil pertanian petani Indonesia seperti kurang di hargai.
  • Nelayan. Siapa yang tidak tahu laut Indonesia? Sampai-sampai ada nelayan dari negara tetangga yang ikut mengambil ikan dari laut Indonesia. Tapi ada kebijakan dari Perum Perikanan Indonesia seakan tidak memihak kepada kepentingan nelayan.

Saya sempat membayangkan, jikalau kedua profesi tersebut melakukan mogok masal, apa yang akan terjadi? Indonesia akan kekurangn bahan pokok makanan. Semoga kedepannya, semua kebijakan pemerintah lebih mementingkan masyarakat Indonesia, terutama untuk petani dan nelayan.