[BELAJAR BAHASA MINANG] BAGIAN 3

Setelah absen dalam satu kali posting, kali ini saya memberika kosa kata baru dalam rubrik Belajar Bahasa Minang. Dalam rubrik kali ini, kita akan bahas beberapa kalimat pertanyaan dalam Bahasa Minang. Ayo mari belajar :

  • Dari Ma Da / Ni? -> Ma disini artinya Mana. Jadi artinya “Dari Mana Uda / Uni?”.
  • Nio Pai Kama Da / Ni? ->  Nio disini artinya Mau. Pai disini artinya Pergi. Kama disini artinya Kemana. Jadi artinya “Mau Pergi Kemana Uda / Uni?”.
  • Tingga Dima Da / Ni -> Tingga disini artinya Tinggal. Dima disini artinya Dimana. Jadi artinya “Tinggal Dimana Uda / Uni?

Cukup untuk rubrik Belajar Bahasa Minang kali ini. Semoga bermanfaat..

Advertisements

Taman Suropati, Salah Satu Sudut Kenyamanan Ibu Kota

Selamat berakhir pekan. Postingan ini ditulis ketika saya berada di Taman Suropati. Di bawah rindangnya pohon, di selimuti cuaca yang sangat sejuk, beralaskan rumput nan hijau. Ibu kota bersyukur masih punya taman. Tujuannya jelas, mengimbangi pembangunan pohon beton serta menyelaraskan pemandangan mata.

Gemirciknya suara air, syahdunya kicauan burung serta semangatnya ayunan kaki, menambah semangatnya berakhir pekan. Saya memang tidak berlebihan memuji Jakarta. Terlepas dari semua polemik yang terjadi belakngan ini, Jakarta punya hal untuk di banggakan.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menulis outdoor. Sangat menarik, saya berpikir sejenak, menoleh ke sekitar taman untuk mencari sambungan kata yang akan saya tulis.

Taman Suropati sangat cocok sebagai tempat edukasi bagi anak-anak, terutama yang berumur di bawah 5 tahun. Ada burung, tanaman yang mungkin tidak bisa ditemui di tempat lain.

Di depan Taman Suropati, ada hamparan tanaman yang berwarna-warni. Lokasinya persis berada disebrang Kantor Bapenas.

Nah, nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan. Sudah sepatunya kita bersyukur. Selamat berakhir pekan.

Belajar Akrab Dengan Aplikasi Online

Perkembangan teknologi membuat pola pikir sebagian orang juga ikut berubah. Dulu, jika seseorang ingin membeli sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari pakaian untuk keluar rumah. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan untuk menuju pasar. Sesampai di pasar, maka kita akan mencari toko, melakukan tawar menawar, deal harga, baru pulang. Setidaknya alur belanja offline tersebut masih bertahan sampai sekarang.

Saat ini, kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Setiap hari adalah proses belajar. Selalu ada hal-hal baru yang akan muncul. Smartphone bulan ini bisa jadi sudah agak canggih di bandingkan dengan smartphone yang keluar bulan lalu.

Masyarakat kota besar seperti Jakarta merupakan pelaku terbesar dalam perkembangan teknologi ini. Mulai dari munculnya aplikasi angkutan online (ojek dan taksi), aplikasi belanja online dan aplikasi update informasi jalanan.

Hal biasa seperti potong rambut pun tidak luput dari yang namanya aplikasi. Sahabat palanta mau beli buah? Sayuran? Semua sudah aplikasinya. Bahkan yang terbaru, sahabat palanta bisa beli obat lewat aplikasi. Konsultasi dengan dokter pun bisa melalui aplikasi.

Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan aplikasi-aplikasi tersebut dengan maksimal.

Mengurangi Jatah Nasi

Saya sepakat bersama istri untuk mengurangi jatah makan nasi setiap pagi. Kebiasaan sarapan dengan nasi sudah dimulai sejak saya masih kecil. Penyebab utamanya adalah ketika berat badan saya dikritik oleh ibu saya sendiri. Naiknya memang drastis, setelah menikah berat badan saya naik lebih kurang 20 KG.

Maka dari itu, bersama istri saya merancang menu sarapan pagi yang sehat. Tujuan utamanya mengurangi jumlah karbohidrat di pagi hari. Alhasil, dalam satu minggu hanya ada 1 menu nasi, yaitu nasi goreng.

Telur memainkan peran disetiap sarapan pagi saya. Tidak terlalu sering memang, setidaknya dalam satu minggu, jatah makan telur sekitar 2 sampai 3 kali. Olahannya bervariatif, mulai dari telur rebus, omlete, dan ceplok. Biasanya di temani oleh sosis, atau kentang yang kadang di rebus kadang di goreng.

Pilihan untuk hidup sehat ada di tangan kita. Beraneka ragam menu makanan sehat banyak di google atau instagram. Tinggal bagaimana kita memilih menu yang benar-benar cocok dengan kita. Ayo mari hidup sehat.

Niat Para Perokok

Saya termasuk orang yang sangat giat mengkampanyekan anti rokok. Kampanye tersebut saya mulai dari keluarga saya sendiri. Ayah dan adik saya merupakan perokok aktif. Ayah merupakan perokok berat. Tetapi gerakan untuk berhenti merokok mustahil bisa terlaksana jika dari pelakunya sendiri tidak ada niat untuk berhenti.

Kalaupun niat untuk berhenti merokok sudah ada, tetapi tidak segera dilakukan, ini juga sama bohong. Niat berhenti merokok itu harus dibarengi dengan implementasi. Percaya atau tidak, para perokok harusnya mengambil pelajaran dari para perokok yang sudah berhenti dari aktifitas ahli hisap tersebut.

Disini saya mencoba shared beberapa tips supaya sahabat palanta yang masih aktif merokok bisa berhenti. Saya tahu niatnya sudah ada, dan dengan adanya tips berikut ini bisa meneruskan niat untuk berhenti total jadi perokok aktif. Seperti biasanya, tips berikut ini saya dapat dari mereka-mereka yang berhasil berhenti merokok.

  • Lakukan rontgen 3D. Cara ini dilakukan oleh saudara dari teman saya. Setelah dilakukan rontgen 3D, hasilnya paru-parunya sudah hitam. Mulai dari saat itu, dia mulai benci dari yang namanya rokok. Sampai-sampai, jika ketika berbicara dengan temannya yang perokok, dia sampai membuang dan menghancurkan rokok temannya tersebut. Teman bertanya, kenapa buang rokok saya? Dia menjawab, saya sudah sangat benci dengan rokok ini, rokok ini yang membuat paru-paru saya hitam.
  • Aduk air dengan garam dalam satu wadah. Celupkan semua ujung rokok yang biasa di hisap ke dalam wadah yang berisi dengan air dengan garam. Masukan lagi kedalam kota. Nah, setiap akan merokok, kita akan merasakan rasa asin.

Intinya, semuanya dikembalikan kepada niat para pelaku perokok.Dan yang penting niat harus diiringi dengan langkah nyata.

Rumah Untuk Anak Kita

Sekarang ini membeli rumah merupakan hal yang tidak sulit lagi. Hampir tiap satu sekali selalu ada pameran rumah di Jakarta. Beraneka ragam jenis rumah ada, mulai dari lokasinya yang masih di Jakarta, dari harga ratusan juga sama milyaran rupiah. Tinggak mencocokannya dengan kantong kita.

Tapi untuk saat ini saya belum rencana membeli rumah dalam dekat. Plan sekarang masih menyewa. Terkadang ada juga saran dari keluarga terdekat. Lebih baik uangnya di bayar buat cicilan rumah, dari pada sewa. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya berpikir dua kali untuk membeli rumah.

  • Riba. Ini merupakan faktor utama. Sebagai umat yang beragama Islam, saya mencoba patuh kepada aturan Allah. Riba ini tidak hanya menyebabkan kita rugi nanti di akhirat, tapi juga rugi dunia. Dimana setiap bulan hidup kita dihantui oleh tagihan, belum lagi bunganya yang sangat tidak bersahabat dengan kita.
  • Belum menemukan tempat yang cocok. Sebagai perantau di Jakarta, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai tempat tinggal yang akan saya tempatinya nantinya. Karena pilihan ini juga mempengaruhi terhadap anak saya nantinya. Sampai saat ini saya masih berusaha untuk mencari rumah masih di kawasan Jakarata. Kalau pun tidak dapat, mungkin saya pulang ke kampung halaman. Jadi petani sepertinya lebih menyenangkan.

 

Cerita Akhir Pekan

Tulisan ini saya buat sekitar 30 menit sebelum berangkat ke kantor. Sebelumnya mohon maaf karena kemaren saya tidak bisa posting untuk rubrik belajar Bahasa Minang.

Weekend kali ini kebanyakan aktifitas saya berada di luar rumah. Sabtu pagi saya menemani istri dan anak pergi berenang di daerah Gudang Peluru. Untuk pertama kalinya Hafshah berenang di kolam renang umum. Siangnya kami singgah di tempat saudara di daerah Tebet. Silahturahmi sekalian beli Madu Pramuka.

Sebenarnya hari minggu tidak ada rencana pergi keluar. Rencananya mengisi rubrik Bahasa Minang dan siangnya menyantapi Gulai Santan buatan istri. Tapi tiba-tiba kepikiran pergi ke rumah saudara di Pondok Aren. Sekitar jam 09.00 kami berangkat dari rumah.

Perjalanan kali ini saya mencoba menggunakan Kereta Api (Commuter Line). Biasanya kami naik Uber untuk pergi kemanapun. Sekalian mengenalkan Commuter Line pada Hafshah. Motor saya parkir di Stasiun Palmerah dan kami turun di Stasiun Jurangmangu. Dari Stasiun Jurangmangu kami melanjutkan dengan angkot.

Rencananya, jika perjalanan lancar, kami akan pulang sekitar jam 11.00 dari Pondok Aren. Tetapi rencana hanya tinggal rencana. Kami sampai di rumah sekitar jam 15.00.

Semoga Minggu depan saya bisa mengisi kembali rubrik Belajar Bahasa Minang.